Tentang Kami

Sejarah singkat

Upacara adat Sunda, seni dan budaya Sunda sudah sangat melekat dalam kehidupan  keseharian saya. Keluarga besar saya adalah pencinta dan pelaku seni, baik cianjuran, kecapi suling dan degung. Sejak usia 6 tahun saya diikutsertakan dalam  kegiatan pementasan tari , anggana sekar dan upacara adat mapag panganten.

Sudah menjadi tradisi didalam keluarga, unsur-unsur adat Sunda seperti siraman , pangaosan, ngeuyeuk seureuh, kacapi suling , mapag panganten sampai pagelaran wayang golek giriharja 3, digunakan pada setiap penyelenggaraan  acara pernikahan atau acara-acara lainnya.

Itulah yang melatarbelakangi  kecintaan saya kepada kebudayaan Sunda tempat dimana saya berasal.

Berawal dari keinginan kuat  untuk mengangkat dan melestarikan kebudayaan Sunda khususnya dan daerah lain pada umumnya serta melihat kebutuhan akan upacara adat Sunda di Jabodetabek yang sangat besar,  timbul ketertarikan saya untuk mempelajari dan menyelenggarakan  acara adat  Sunda lengkap dan autentik.

Dari bakat yang diwariskan secara turun temurun dan juga pencarian nara sumber melalui literatur, pakar sejarah, budayawan  pada akhirnya sanggar Wirangga mampu menampilkan acara adat Sunda secara lengkap dan autentik.

Dalam perkembangannya, pentas seni dan budaya seperti ini sering kita temui sudah sangat jauh dari “pakem”, banyak hal-hal yang diabaikan atas nama modifikasi dan faktor murah dengan meniadakan  tahapan prosesi dan mengganti beberapa perlengkapan yang digunakan  sehingga menjadi kehilangan keasliannya.

Melalui proses pemikiran dan pencarian yang panjang serta dukungan yang luar biasa dari suami dan keluarga,  Sanggar Wirangga yang mengambil nama dari putra semata wayang saya, pada awal tahun 2015 terbentuk.

Sanggar Wirangga  berkomitment dalam setiap menyelenggarakan upacara adat tidak akan menghilangkan keaslian dari setiap proses yang harus dilalui tanpa bertentangan dengan aturan yang telah digariskan baik dari sisi agama maupun secara normatif.

Semoga apa yang saya pikirkan, usahakan dan perbuat sebagai bagian dari pelestari budaya, mendapat respons positif  dari semua pihak untuk saling menjaga dan mencintai keelokan budaya lokal ditengah terjangan arus modernisasi.